Aku pernah dikenal sebagai sang juara Tidak berbeda dengan bagaimana aku mengenal aku Di lintasanku berlari, kau bertemu aku, kekalahan pertamaku Kamu bersorak paling keras dari bangku penonton Aku masih teringat suaramu ketika aku berlari Sampai sekarang aku terseok-seok, aku masih teringat Timbul tenggelam di antara riuhnya manusia Tepukan riuhmu mengiringi sorakan nomor punggungku Sang juara tak pernah melihat ke bangku penonton Sorak soraimu terlalu biasa dan rutin Hingga suatu saat lenyap Aku berhenti jadi juara Bukan karena disusul pelari lain atau lariku melamban Aku menjadi sibuk memindai bangku penonton Sang juara telah lupa cara melangkahkan kaki Kini tak ingat pernah menjadi juara