Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2024

Sauh tenggelam

Apa kau mendengar suara sauhku tenggelam? Mungkin ia menghujam karang di dalam Membuat ikan kecil yang sedang menari membubarkan diri Atau membuat terpisah seekor dari sekawanan pari “Tapi kapalku tak boleh karam Tak ada waktu untuk tenggelam” Kataku Padaku Hatiku Benakku Aku yakin Tuhan mendengar suara itu Atau sautan parauku kala tak kuasa atas kemudi Semesta merangkulku dengan caranya sendiri “Jika kau kehendaki karamku, akan kupejamkan kedua mataku, kuserahkan diriku pada arah manapun arus gelombang membawaku.  Turun ke dasar gelap atau naik ke atas menuju langit yang terang. Sampai tak ada lagi gelembung udara pada dadaku, dan menyatulah aku menjadi laut”

Perkenalan

"Asalmu dari mana?" Dari rahim ibuku yang pengasih "Maskud kami, di mana rumahmu?" Di mana pun aku berpijak Di lantai hutan hujan yang penuh makhluk-makhluk ajaib  Di dalam laut tenang di mana ikan-ikan kecil mungkin sedang menari Di beton pelabuhan yang terbengkalai yang masih menyimpan hangatnya walau matahari terbenam Di atas batu-batu licin di sungai tenang tempatku berduka membaca puisi yang pilu Di dalam kamar kos kecil dengan pintu yang kugambari dengan kapur Di atas tunggul kayu ulin yang terbakar dan dikelilingi rumput tinggi Di atas pasir pantai lembut yang ikut terbawa pulang di alas kakiku "Keluargamu?" Mereka yang bisa melihatku dan membiarkanku menjadi aku. Diriku. Meski aku berada dibalik dinding, atau mengintip dari daun jendela. Photographed by Rahmawati Indah (2021) for Musik Layang.  Listen to Dari Jendela  here.