Dari satu yang pecah tumpah menyiprat menjadi dua, sepuluh, tiga ratus satu, seribu juta, sampai tujuh milyar, ada beberapa ratus yang suara tawanya melayang-layang abadi di udara. Masih terdengar sampai hari ini, walau dadanya sudah bolong dicium peluru tak sopan, mendobrak, mengoyak, memaksa masuk, memerkosa satu, dua, tiga, sampai sepuluh tahun yang lalu. Yang lain lagi terperangkap, tawanya tertahan di dalam dada yang masih perawan belum terkecup peluru. Jantungnya masih berdetak seratus ribu kali dan matanya masih berkedip dua puluh delapan ribu delapan ratus kali sehari walau jiwanya yang hanya satu dirampas direnggut diinjak diludahi. Lalu hari ini, ada satu yang sambil mengaduk mie instan dengan tangan kanan, menuliskan cita-cita baru dengan pena di tangan kirinya. Mengkalkulasikan usia, uang, waktu dengan angka angka panjang yang belum masuk akal beberapa detik lalu. Dia bilang pada garpu berminyak yang diam saja bahwa cara paling mudah memahami hidup adalah dengan ...