Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2017

A Flash Fiction

She emerged and left the door behind ajar. She smiled as I rose and embrace her. I lead her to the couch and we sat side by side. There was nothing but silence filled with some tiny drops of rain making a little noise outside. "Sorry I didn't pick up your call. I thought it was my alarm," I finally broke the silence. She turned to me and said in her cold voice, "Really there's no need to lie. I know you dislike a phone call." I tried to hide my edginess by laughing but my voice was shaking. The silence filled the air once more. "Sorry, again." I squeezed her palm. It was cold and dry like a snowflake. She pulled her hand and thrusted it into her trouser pocket. She pulled a lighter. A minute later the smoke started to fill the air conditioned room we were in. It started to smothers me but I said nothing. "Say something," she finally said, as if she could read my mind. "Which one of it? Something you will be pleased to hear...

Bahasa

Bahasa, sebagai buah konstruksi manusia adalah wujud kebisingan. Sekat yang mengisolasi jiwa kita. Hingga sepi di tengah hingar bingar dapat tercipta. Tidakkah kau lelah? Ketenangan apa yang kau dapatkan dari kebisingan ini? Rehatlah sejenak. Mari temui sunyi dan cinta. Yang maknanya telah dikecilkan dan dibatasi oleh bahasa kita. For they are divine, the universal language beyond human could construct.

Lagi, lagi, lagi dan hingga nanti tak ada lagi

Lagi, Aku kehilangan kepercayaan pada apa pun. Pada kata-kata, pada manusia, pada semesta, bahkan pada diriku sendiri. Lagi, Aku dirundung kekecewaan pada segala hal Pada keadaan, pada mereka yang kupercayakan, pada cara semesta membentukku, dan yang terdalam pada diriku sendiri yang begitu lemah. - Kembali, aku sendiri, kehilangan arah dan pijakan. Kehilangan tempat bersandar dan berpulang. Kembali, semuanya terasa asing dan kosong seperti semula. Aku mencari kemana sang tenang dibawa dan bertanya-tanya dengan ribut. - Lalu aku bungkam. Menyaksikan mereka menutup telinga mendengar kegaduhanku. Tak ada tenang yang kutemukan. Tak ada jawaban yang kudapatkan. Lalu aku terkulai. Mendengar kutukan-kutukan atas ketidakmampuanku. Tak ada tenang yang kutemukan. Tak ada jawaban yang kudapatkan. - Berkali-kali, Aku hampir terbunuh kekecewaan Aku hampir terbelenggu kesendirian Aku hampir terpatahkan keraguan Aku hampir terkikis habis digerogoti ganasnya keboho...