Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2017

A Longing Gaze

That figure is just a small portion of composition inside the frame of my eyes A shadow that stands still,  looking fastened into my soul It is far away, yet I recognize that gaze It is a longing gaze. How could it learn to perceive? Did it read the burned script? In that moment the desire emerges I run Despite this burdensome shell I carry I embrace Despite the suffocating smell it bursts

A Flash Fiction: Relung

Dulu aku hanya mendengar dari burung-burung bising di hutan, tentang keberadaan relung yang selalu digemakan. Saat itu, kapan pun aku berjalan, seekor macan selalu membuntutiku. "Semua manusia sudah pasti pernah berkunjung ke sana. Bagaimana kau luput?" mereka selalu bertanya padaku.  Berkali-kali aku menyelami danau-danau, menyebrangi sungai-sungai, menyusuri jurang-jurang dan mendaki gunung-gunung. Tersesat ke sana kemari, namun tak kunjung kujumpai relung itu. Aku terus bertanya-tanya pada kijang dan kelinci di hutan. Mereka hanya berlari terbirit-birit. Kusadari macan yang membuntutiku telah membuat mereka ketakutan. Aku telah menumbuhkan sang macan, hingga tubuhnya kini tiga kali lebih tinggi dan kokoh dariku. Pada akhirnya aku mengabaikannya. Saat aku terduduk lelah tanpa asa di atas dedaunan kering dan telah lupa akan warna langit dan rasi bintang yang menuntun, seekor kuda menghampiriku dan mengulurkan surainya. Aku tak mengerti bahasa kuda, namun kupercayakan ia...

A Short Story: Insanity

"Ayah, orang-orang yang hilang kewarasannya dulu pernah seperti aku kan? Kalau aku tiba-tiba gila, ayah mau apakan aku?" Ayah tak menaruh perhatiannya padaku. Ia tampak gelisah, berkali-kali diliriknya jam tangan hitam yang selalu ia kenakan di lengan kirinya. "Ayah usahakan sampai kamu waras lagi," jawabnya setelah aku menarik ujung lengan bajunya. "Kalau tidak bisa?" "Ayah akan terima sesulit apa pun itu." Ia melirik kanan dan kiri dengan resah, seperti hendak mencari celah di antara kendaraan-lendaraan yang terhenti. "Kalau aku gila dan suka memukuli ayah?" "Ayah tangkis." Kini ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas roda kemudi. "Kalau aku gila dan ingin ayah mendengar celotehan ngawurku setiap saat?" "Akan ayah dengarkan," jawabnya sambil menghela nafas dan berdecak ketika lampu merah kembali menjebak kami. "Jangan, ayah tutup telinga saja. Atau tutup mulutku." "Baiklah, ayah ...

Ingin

Lenganku masih kotor Nafasku masih kering Dan rintihanku masih sumbang Pelan-pelan kubasuh tubuhku dengan salju Kupasrahkan diriku pada embun yang menyejukkan Hingga luka yang meradang berjumpa tenang Aku masih ingin berdiri Aku masih ingin bersandar Aku masih ingin bercerita Samar-samar ia yang lama terabaikan kembali memanggil Dengan segala upaya kulepaskan belenggu yang merantai kaki Meninggalkan segala ingin