Dulu aku hanya mendengar dari burung-burung bising di hutan, tentang keberadaan relung yang selalu digemakan. Saat itu, kapan pun aku berjalan, seekor macan selalu membuntutiku. "Semua manusia sudah pasti pernah berkunjung ke sana. Bagaimana kau luput?" mereka selalu bertanya padaku. Berkali-kali aku menyelami danau-danau, menyebrangi sungai-sungai, menyusuri jurang-jurang dan mendaki gunung-gunung. Tersesat ke sana kemari, namun tak kunjung kujumpai relung itu. Aku terus bertanya-tanya pada kijang dan kelinci di hutan. Mereka hanya berlari terbirit-birit. Kusadari macan yang membuntutiku telah membuat mereka ketakutan. Aku telah menumbuhkan sang macan, hingga tubuhnya kini tiga kali lebih tinggi dan kokoh dariku. Pada akhirnya aku mengabaikannya. Saat aku terduduk lelah tanpa asa di atas dedaunan kering dan telah lupa akan warna langit dan rasi bintang yang menuntun, seekor kuda menghampiriku dan mengulurkan surainya. Aku tak mengerti bahasa kuda, namun kupercayakan ia...