Skip to main content

A Short Story: You Will Always There

Dari jiwa kosong di ruang hampa, perlahan aku mulai merasakan tubuhku. Aku merasakan hembusan hangat nafasku sendiri. Aku mengerutkan dahiku dan kubuka mataku. Ku usap keringat yang bercucuran dari dahiku. Aku tak sadar sudah berapa lama tepatnya aku tertidur di atas sofa. Tanpa persetujuan pikiranku, tubuhku telah mengistirahatkan dirinya sendiri. Mungkin tubuh ini lelah menunggu komando dari pikiranku yang bahkan tak sedikitpun memikirkan hal lain selain satu hal yang tak berujung. Mungkin pikiranku tak ingat bahwa ia masih bertanggung jawab atas tubuhku. Mungkin terlalu banyak sekelumit hal-hal tak penting yang membuatnya lupa akan tubuhku. Ya, lelapku kali ini benar-benar mengistirahatkan pikiran dan hati. Walau hanya sebentar, aku sangat bersyukur tuhan masih memberiku nikmat untuk merasakan damai. Damai tanpa pikiran yang tak mau berhenti berputar dan hati yang tak mau berhenti bergolak resah. Ya, walau hanya sejenak.

Aku menarik lututku dan berusaha terduduk. Namun, punggungku terasa begitu lemah hingga tak mampu menopang badanku. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding dan sedikit mengernyit ketika aku merasakan dingin. Kakiku terasa kaku, bibirku terasa kering dan mataku terasa kesat walaupun dahiku bercucuran keringat. Ku tarik selimutku kembali dan kubalutkan kakiku dengan selimut itu. Namun sehelai selimut tak mampu mengusir dingin ini. Aku mengerang dan mengalah pada hawa dingin. Lebih tepatnya, aku tak sedikitpun mencoba untuk melawan. Sesaat ada perasaan kecil yang menggelitik, perasaan berharap bahwa aku terbangun menjadi seorang yang lain. Siapapun. Mungkin seseorang yang selalu terbangun dengan hati dan pikiran yang segar. Bukan seperti aku yang selalu bermimpi dengan hati yang terluka dan merasakan bahwa bangun dari tidur adalah hal tersulit. Rasanya aku ingin tidur untuk selamanya dan tak pernah terbangun. Hidup dalam mimpiku ketika kamu lebih nyata di sana. Can i just move and live in my own dream when you seems more real there? Namun rasa itu langsung sirna ketika bingkai-bingkai foto di dinding tertangkap ekor mataku. Aku menoleh kesana, dinding itu. Semua tentangku ada disana. Karya-karyaku. Ternyata aku masih sama, masih aku.

Aku menurunkan kedua kakiku dari sofa dan berjalan menuju cermin. Sekali lagi, hanya untuk memastikan apakah aku tetap aku, gadis berambut hitam kusut dengan wajah yang tak pernah terpolesi rasa percaya diri. Benar saja, there, stands a messy girl. Gadis yang kulihat dalam cermin itu adalah seorang gadis dengan badan ringkih. Seorang gadis rapuh. Namun seorang petarung kuat, pembohong ulung dan penyamar yang licik. Gadis yang hidup didunia dengan langit kedustaan. Dengan senyum penuh sejuta kepura-puraan dan dengan tawa penuh sejuta kebohongan. Gadis yang hanya berbicara melalui tatapan mata yang kosong. Neither pretty nor adorable girl. An unwanted girl dengan tak satupun bagian tubuh yang bisa menjadi alasan seseorang untuk menjadi tertarik. Ya, haha pahit memang. Gadis itu adalah aku. Masih aku. Gadis yang sama, gadis yang selalu disana ketika aku menatap cermin dan berharap menemukan refleksi yang berbeda. Namun semuanya tetap sama. Just like the other days.

Sentuhan hangat lantai kayu maple tak memberikan sensasi apapun. Rasanya tetap sama, dingin. Seperti aku yang tetap menjadi diriku. Semua barang barang di kamarku pun tetap pada tempatnya.Nothing changed, not even a single thing moved, tak terkecuali hal yang menjadi alasan atas air mataku sebelum terlelap. Ya, bayangan itu masih disana. Bayanganmu yang baru saja kuingat muncul di mimpiku untuk kesekian kalinya. Hanya saja, untuk kali ini, aku tidak bangun dengan senyum karena mendapatimu di mimpiku. Kali ini, dengan mimpi yang sama, aku tak merasakan apa-apa. Tak ada lagi senyum di wajahku saat mengingat mimpi yang baru kualami. Tak lagi jantungku berdegup lebih cepat, larut dalam euforia. Ya, hanya itu saja yang berubah.

Aku tetap aku, kamu tetap kamu. Apapun yang sudah kulewati, semudah atau sesulit apapun, semua itu tak menjadikan aku dan kamu menjadi kita. Atau mungkin justru aku tak pantas menggunakan kata 'kita'. Aku hanya aku begitupula dengan kamu yang hanya kamu. Kita tak akan pernah menjadi 'kita'. Sesulit apapun halangannya dan seberat apapun perjuanganku. Tentu saja kita tak pernah bersatu. Semuanya tak seimbang. Aku berjuang sendiri yang bahkan tanpa atau dengan pengorbananku, kamu tetap disana, jauh, unreachable and untouchable.

Mimpi tadi tetap sama seperti malam-malam sebelumnya. Namun, bukan senang lagi yang ku dapat setelah bangun dari mimpi ini. Sakit rasanya. Mimpi itu hanya mempermainkanku. Aku terlalu jauh dari garis yang dulu kubuat, garis tebal yang kupertegas bahwa aku hanyalah pengagum rahasiamu. Beginikah rasanya menjadi pengagum rahasia? Kita bahkan belum pernah bercakap-cakap. Sangat tak logis bila aku menyalahkanmu atas redupnya satu-satunya sinar harapan yang kupunya. Ya, kau tak pernah berbuat apa-apa padaku. Tapi mengapa bisa aku hancur? Beginikah rasanya menjadi pengagum rahasia? Yang hanya bisa melihatmu dari kejauhan tanpa bisa saling menebar senyum walau hanya sedetik? Bagaimana kita bisa bersatu jika aku tak pernah mencoba masuk ke duniamu? Bagaimana kita bisa bersatu jika aku tak pernah mengangkat wajahku ketika kau berada di sekitarku? Bagaimana kita bisa bersatu jika senyummu yang kudapat hanyalah senyum dari bayanganmu yang diam-diam kuambil lewat lensa kameraku? dan bagaimana bisa kita bersatu jika yang bisa kusentuh dari dirimu hanyalah bayanganmu didindingku?

Hal yang sangat ingin kulakukan sekarang adalah melupakanmu dan berhenti menyalahkan diriku sendiri karena keberanian yang tak kumiliki. Kamu belum berbuat apa-apa saja aku sudah sakit. Di tambah lagi, aku harus melupakanmu. Hal tersulit yang mungkin tak mungkin bisa kulakukan. Melupakanmu sama sulitnya seperti mengenali orang yang tak pernah kutemui karena kamu seperti bayanganku yang terlihat jelas dan tajam ketika cahaya terang dan kabur menjadi titik titik tak berarti ketika cahaya redup. Namun cahaya didunia ini tak pernah padam. Aku tak bisa benar-benar mengeyahkan bayanganku sendiri sebagaimana aku tak bisa mengenyahkan cahaya di dunia ini dan menjadikannya malam selamanya. Aku hanya bisa memilih dimana tempatku berdiri ketika cahaya menerangi agar aku bisa mengenyahkanmu. Namun, itu bukan berarti kau hilang selamanya. You will always there as i can't hide forever from the light.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...