Skip to main content

A Short Story: Crawl

Tak pernah terjadi sekalipun sebelumnya. Semua selalu baik-baik saja setiap harinya. Terlalu lama seperti tak mungkin akan berubah. Aku merasakan guncangan hebat yang membuatku meringkuk memeluk lutut sambil menggigit bibir. Ketakutan menggelitik punggungku.
Apapun yang akan terjadi, aku hanya bisa pasrah. Aku terlalu kecil, lemah dan tidak berdaya.
Tempat ternyamanku kini terasa lebih dingin dan gelap. Penglihatanku yang memang belum sempurna seakan menjerit, takut kehilangan cahaya dan buta selamanya.
Dinding ruangan ini pun semakin mendesakku tiap detiknya hingga akhirnya menyentuh kulitku.
seakan tahu aku memiliki tulang yang rapuh dan ingin menghancurkanku.
Disana, kulihat setitik cahaya yang semakin mengecil dan memudar. Tiba-tiba dadaku sesak dan panas. Tangan lemahku mulai meraih-raih putus asa. Berharap aku bisa menangkap oksigen. Kaki mungilku mulai menendang-nendang ke segala arah. Berharap bisa mendapatkan ruang lebih untuk bernafas. Namun tempat ini lebih kuat. Tak ada jalan bagi kaki dan tangan mungilku untuk merangkak.

Ya, aku terlalu kecil dan lemah. Tempat ternyamanku kini membunuhku, tak mengizinkaku menyambung asa. Aku pun terdiam, meringkuk dan berdoa dalam hatiku. Hingga perlahan ototku melemah dan kegelapan menyelimutiku. Aku mulai berdamai dengan semesta. Kupasrahkan jiwaku, kubiarkan tubuhku. Sesaat ketika tenang mulai kurasa, kupikir semesta berkata lain. Aku merasakan sesuatu menendang tubuhku dari bawah. Disana, kulihat titik cahaya yang memudar kini semakin terang, dan aku tahu, aku telah di tuntun menuju cahaya itu. Asa dalam jiwaku yang hancur seakan tersusun kembali, aku memejamkan mata dan berteriak bersemangat menuju cahaya itu.
Aku berhasil. Tak lagi terjebak dinding. Hanya tangan besar dan hangat yang terasa memegang tubuhku. Dadaku mulai terisi udara ketika aku membuka mulutku. Aku tak sabar, ingin membuka mataku dan melihat seindah apa tempat selanjutnya yang semesta sediakan untukku.

Saat kubuka mataku..

Aku menangis. Berteriak sejadi-jadinya. Menggapai-gapai udara putus asa. Aku ingin kembali ke tempatku.
Karena aku tahu, aku telah terlahir ke sebuah dunia.
Dunia yang lebih dingin dan gelap.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...