Skip to main content

A Short Story: Kami

Di kehidupanku yang lain, mungkin sekarang aku sedang bersenda gurau dengan anak-anakku. Aku, seorang wanita karier yang sukses, berpendidikan tinggi. Ibu menghubungiku tiap akhir minggu, menanyakan kabar cucu-cucunya. Sedangkan ayah tak henti-hentinya membujukku agar aku berkunjung dengan anak-anakku. Kakak dan adik sering mendatangiku, memintai saranku. Entah itu kepentingan keluarga, ataupun kepentingan karier. Tetangga-tetanggaku selalu ramah padaku, tersenyum tiap kali berpapasan. Aku aktif menyemarakkan lingkungan tempat tinggalku dengan mengikuti segala kegiatan. Teman-temanku selalu menanyakan kabarku dan sesekali kita menyempatkan diri untuk sekedar bertemu.

Ah, betapa indahnya kehidupan yang lain itu. Aku tersenyum kecil membayangkannya. Melihatku tersenyum, tangannya menggenggamku lembut. Aku tahu ia pun sedang tersenyum. Mungkin kehidupanku sekarang bersamanya tak seindah bayanganku tadi. Hanya ada aku dan dia, tak ada tawa anak-anak di kehidupan kami. Aku harus berhenti bersekolah tinggi karena orang tuaku tak lagi sudi membiayaiku. Ibuku tak pernah menghubungiku lagi. Ayah mengusirku dari rumah dengan caci-makinya dan tak mengizinkanku kembali ke rumahnya apapun alasannya. Kakak dan adik tak pernah lagi menganggapku saudara. Aku adalah aib bagi keluargaku. Tetangga-tetanggaku selalu tersenyum sinis dengan pandangan 'jijik' ketika kami berpapasan. Aku dikucilkan. Teman-temanku seakan sengaja melupakanku, mengadakan pertemuan tanpaku dan tak pernah menanyakan kabarku.

Ya, aku yang telah memilih jalan ini. Mungkin hidupku sangat jauh dari kata sempurna, tapi aku tak pernah menyesal. Aku tahu, ketika aku memilih untuk bersamanya, kehidupanku akan berputar berkebalikan. Kehidupanku tak akan sama lagi, begitu pula aku. Sekarang, aku tahu seperti apa rasanya bahagia. Aku tak lagi hidup dalam tekanan dan membohongi diriku sendiri. Aku membayar kehidupan sempurnaku dengannya.

Ya, aku memilihnya, perempuan yang sekarang berada disisiku.
Kami bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...