Skip to main content

A Short Story: The Cost

Matahari mulai merendah. Sinar jingganya mengintip dan menyelinap dari balik gedung-gedung. Aku menutup pagar rumah temanku dan berjalan menapaki gang kecil menuju jalan raya. Hari ini benar-benar menyenangkan. Bermain bersama teman, menjadi diri sendiri dan melakukan hal-hal normal lainnya yang biasa dilakukan anak sekolah dasar. Sesekali, aku memang perlu melakukan hal-hal semacam itu. Aku berhak memperoleh kesenangan walaupun aku tahu, akan ada harga yang harus kubayar untuk kesenangan kecil itu.

Aku terus berjalan hingga gang rumahku tinggal beberapa langkah lagi. Aku memperlambat langkahku. Kesenganganku mulai terhapus, digantikan oleh kegelisahan. Otakku mulai berpikir tentang apa yang harus kukatakan pada ibu. Tidak mungkin aku jujur, aku telah meninggalkan tanggung jawabku hanya untuk bermain. Ibu pasti marah besar. Ah, tak apalah, aku berbohong untuk kebaikanku kali ini. Rasanya lebih baik berdosa daripada dimarahi ibu.

Kubayangkan pertanyaan yang akan dilayangkan ibu dan bagaimana aku akan dengan percaya diri menjawabnya. Namun, semakin aku dekat dengan rumah, keberanianku semakin goyah. Ingin sekali aku berputar balik dan lari sekencang-kencangnya, menjauhi rumah. Tapi aku tak bisa. Aku harus tahu diri bahwa ibu lah yang sudah menyekolahkan dan menghidupiku semenjak TK. Sudah sepatutnya aku menurutinya. "Klik" aku memutar gagang pintu. Keberanian dan kepercayaan diriku runtuh ketika aku melihat ibu terduduk. Semua skenarioku buyar.

Aku hilang kontrol. Kacau. Aku bahkan sudah berkata-kata sebelum terlontar pertanyaan dari mulut ibu. Rencanaku untuk berbicara dengan percaya diri dan meyakinkan gagal total, suaraku bergetar hebat dan mataku panas. Setelah menyadari kebodohanku, aku menundukkan kepala. Aku tahu aku sudah runtuh, sudah kalah. Hanya akan mengalir air mataku bila kulanjutkan. Hal yang terjadi selanjutnya sudah bisa kutebak. Ibu meninggikan suaranya. Aku merasa semakin tak berdaya saat ia bilang ia tahu aku berbohong. Ibu memang seakan tahu segalanya, setiap cela dalam diriku. Selanjutnya, seperti biasanya, aku hanya menunduk dan menyembunyikan air mataku.

Inilah harga yang harus kubayar.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...