Skip to main content

A Short Story: Tak Pernah Nyata

"Lisa, pergi dari situ. Percaya padaku. Jangan dengarkan dia,"

Selangkah demi selangkah aku mendekatinya yang masih berdiri terpaku di sebrang ruangan.

Di sampingnya, berdiri pria itu. Pria yang selalu menggunakan setelan hitam kaku. Ia menatapku dan menyeringai. Dengan nada yang sama, ia menyalin kata-kataku,

"Lisa, pergi dari situ. Percaya padaku. Jangan dengarkan dia."

Aroma nafasnya menyeruak, membuat udara ruangan berbau darah. Hawa dingin menggelitik punggungku.

Namun, tak sedikit pun Lisa beranjak, malah merosot tubuhnya. Terduduk ia di atas permadani dengan bahu berguncang. Isak tangisnya memecah keheningan malam.

"Tidak, jangan lakukan ini lagi. Kumohon, Han,"

Ia memeluk lututnya, menatapku dengan tatapan yang membuat ngilu hati. Air matanya mengalir deras.

"Kau harus menjauh darinya. Ia menyembunyikan pisau dibalik jas hitamnya!"

Teriakku menghentikan isaknya sesaat.

Seringai pria itu makin ganas. Perlahan ia selipkan tangan kanannya dalam jas hitamnya.

Tuhan, jangan.
Sebelum aku sempat melangkah, benda itu sudah digenggamnya. Sebuah belati yang telanjang. Menjadi jelas dan berkilauan memantulkan cahaya rembulan.

Keringat menetes dari dahiku. Aku terpaku sesaat. Namun isakan Lisa yang kembali terdengar menyadarkanku.

Segera aku berlari. Tanpa ampun kutabrak angin dan kuhajar jarak. Hening malam makin terbunuh dengan suara perabotan berkelontangan terjatuh.

Secepat kilat semuanya terjadi. Tepat sebelum belati itu menyentuh sehelai rambut Lisa, aku mendorong pria itu dan menghujaninya dengan pukulan tanpa ampun.

Pria itu tersungkur, tak sedikit pun ia melakukan perlawanan.

Ia merintih dan makin pilu rintihannya hingga seketika aku tertegun dan berhenti.

Tubuhku yang masih bergetar karena amarah kini kehilangan daya. Terhisap semua hingga lemas otot-ototku. Dadaku tiba-tiba sesak, seakan baru saja paru-paruku tertinju.

Aku mengenal suara pilu itu.

Pilu yang kini diiringi isak tangis.

Bukan wajah pria itu yang kudapati penuh lebam dihadapanku.

Wajahnya, wajah lembutnya yang kini penuh biru.

"Ia tak nyata, Han. Percaya padaku. Ia tak pernah nyata,"

Ia tak pernah nyata.

Penglihatanku seketika gelap dan terjatuh tubuhku menimpa tubuhnya.

***

The cursor had been flickering in the same spot for hours. Until the term schizophrenia came up in my mind.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...