"Lisa, pergi dari situ. Percaya padaku. Jangan dengarkan dia,"
Selangkah demi selangkah aku mendekatinya yang masih berdiri terpaku di sebrang ruangan.
Di sampingnya, berdiri pria itu. Pria yang selalu menggunakan setelan hitam kaku. Ia menatapku dan menyeringai. Dengan nada yang sama, ia menyalin kata-kataku,
"Lisa, pergi dari situ. Percaya padaku. Jangan dengarkan dia."
Aroma nafasnya menyeruak, membuat udara ruangan berbau darah. Hawa dingin menggelitik punggungku.
Namun, tak sedikit pun Lisa beranjak, malah merosot tubuhnya. Terduduk ia di atas permadani dengan bahu berguncang. Isak tangisnya memecah keheningan malam.
"Tidak, jangan lakukan ini lagi. Kumohon, Han,"
Ia memeluk lututnya, menatapku dengan tatapan yang membuat ngilu hati. Air matanya mengalir deras.
"Kau harus menjauh darinya. Ia menyembunyikan pisau dibalik jas hitamnya!"
Teriakku menghentikan isaknya sesaat.
Seringai pria itu makin ganas. Perlahan ia selipkan tangan kanannya dalam jas hitamnya.
Tuhan, jangan.
Selangkah demi selangkah aku mendekatinya yang masih berdiri terpaku di sebrang ruangan.
Di sampingnya, berdiri pria itu. Pria yang selalu menggunakan setelan hitam kaku. Ia menatapku dan menyeringai. Dengan nada yang sama, ia menyalin kata-kataku,
"Lisa, pergi dari situ. Percaya padaku. Jangan dengarkan dia."
Aroma nafasnya menyeruak, membuat udara ruangan berbau darah. Hawa dingin menggelitik punggungku.
Namun, tak sedikit pun Lisa beranjak, malah merosot tubuhnya. Terduduk ia di atas permadani dengan bahu berguncang. Isak tangisnya memecah keheningan malam.
"Tidak, jangan lakukan ini lagi. Kumohon, Han,"
Ia memeluk lututnya, menatapku dengan tatapan yang membuat ngilu hati. Air matanya mengalir deras.
"Kau harus menjauh darinya. Ia menyembunyikan pisau dibalik jas hitamnya!"
Teriakku menghentikan isaknya sesaat.
Seringai pria itu makin ganas. Perlahan ia selipkan tangan kanannya dalam jas hitamnya.
Tuhan, jangan.
Sebelum aku sempat melangkah, benda itu sudah digenggamnya. Sebuah belati yang telanjang. Menjadi jelas dan berkilauan memantulkan cahaya rembulan.
Keringat menetes dari dahiku. Aku terpaku sesaat. Namun isakan Lisa yang kembali terdengar menyadarkanku.
Segera aku berlari. Tanpa ampun kutabrak angin dan kuhajar jarak. Hening malam makin terbunuh dengan suara perabotan berkelontangan terjatuh.
Secepat kilat semuanya terjadi. Tepat sebelum belati itu menyentuh sehelai rambut Lisa, aku mendorong pria itu dan menghujaninya dengan pukulan tanpa ampun.
Pria itu tersungkur, tak sedikit pun ia melakukan perlawanan.
Ia merintih dan makin pilu rintihannya hingga seketika aku tertegun dan berhenti.
Tubuhku yang masih bergetar karena amarah kini kehilangan daya. Terhisap semua hingga lemas otot-ototku. Dadaku tiba-tiba sesak, seakan baru saja paru-paruku tertinju.
Aku mengenal suara pilu itu.
Pilu yang kini diiringi isak tangis.
Bukan wajah pria itu yang kudapati penuh lebam dihadapanku.
Wajahnya, wajah lembutnya yang kini penuh biru.
"Ia tak nyata, Han. Percaya padaku. Ia tak pernah nyata,"
Ia tak pernah nyata.
Penglihatanku seketika gelap dan terjatuh tubuhku menimpa tubuhnya.
The cursor had been flickering in the same spot for hours. Until the term schizophrenia came up in my mind.
Keringat menetes dari dahiku. Aku terpaku sesaat. Namun isakan Lisa yang kembali terdengar menyadarkanku.
Segera aku berlari. Tanpa ampun kutabrak angin dan kuhajar jarak. Hening malam makin terbunuh dengan suara perabotan berkelontangan terjatuh.
Secepat kilat semuanya terjadi. Tepat sebelum belati itu menyentuh sehelai rambut Lisa, aku mendorong pria itu dan menghujaninya dengan pukulan tanpa ampun.
Pria itu tersungkur, tak sedikit pun ia melakukan perlawanan.
Ia merintih dan makin pilu rintihannya hingga seketika aku tertegun dan berhenti.
Tubuhku yang masih bergetar karena amarah kini kehilangan daya. Terhisap semua hingga lemas otot-ototku. Dadaku tiba-tiba sesak, seakan baru saja paru-paruku tertinju.
Aku mengenal suara pilu itu.
Pilu yang kini diiringi isak tangis.
Bukan wajah pria itu yang kudapati penuh lebam dihadapanku.
Wajahnya, wajah lembutnya yang kini penuh biru.
"Ia tak nyata, Han. Percaya padaku. Ia tak pernah nyata,"
Ia tak pernah nyata.
Penglihatanku seketika gelap dan terjatuh tubuhku menimpa tubuhnya.
***
The cursor had been flickering in the same spot for hours. Until the term schizophrenia came up in my mind.
Comments
Post a Comment