Aku, yang sedang bersama sunyi, menggenggam penaku ditengah kegelapan malam.
Kata-kata mengalir begitu derasnya mengotori kertas putihku dan jariku menari-nari begitu lincahnya menggoreskan jutaan makna. Aku tak mampu membendung gejolak jiwaku yang berapi-api.
Perlahan-lahan, tanganku mulai dingin kemudian gemetar. Tarian jariku melambat ketika kurasakan tiap ruasnya mulai membeku. Jantungku berdegup begitu hebatnya dalam kepanikan dan satu dua butir keringat dingin mengaliri punggungku ketika kusadari kata-kata yang kugoreskan mulai tampak tak nyata.
Aku lemah tak berdaya menatap kertas dan penaku nanar.
Kuhentikan goresan tinta yang mengalir. Jemariku yang semula menari-nari kini dingin dan kaku. Aku terisak pilu dalam keputusasaan ketika kupandangi penaku.
Lihatlah, tinta didalamnya mulai mengering.

Comments
Post a Comment