Skip to main content

A Short Story: Luka

Siang itu aku datang dengan satu lagi luka baru yang masih basah. Tersembunyi dibalik balutan baju hangat yang begitu jarang kukenakan. Luka ini akhirnya muncul dengan guratan jelas diatas kulitku setelah lama ia hanya berupa potensi, bulatan memar yang tak tampak.

Aku meringis ketika lukaku tak sengaja tersentuh lengannya. Untuk pertama kalinya aku memperhatikan lengan itu, lengan yang selalu berupaya menggapai dan merengkuhku dalam dunia sepinya.

"Luka baru?"

Aku hanya mengangguk dan memaksakan senyum kepada orang asing ini. Tak ada yang kuingat tentangnya, bahkan namanya. Ia selalu kuabaikan.
Hari ini pandanganku menyapa sekujur tubuhnya, bukan lagi hanya pada bayangannya.

Lalu tersingkaplah, kain yang menyelubungi tubuhnya. Aku terpaku menatap kulitnya yang kotor, dipenuhi lebam dan goresan-goresan yang dalam. Lingkaran biru dan garis-garis merah memenuhi sekujur tubuhnya.

Tentang luka-luka dan lebamnya yang sesekali dua kali pernah kudengar dari kicauan burung-burung di loteng, bukanlah sekadar rumor.

"Kaukah yang burung-burung itu selalu ributkan? Kau hanya terjatuh sekali. Bagaimana tubuhmu bisa sehancur ini?" aku tak dapat menahan getaran hati yang mendesak dari suaraku.

"Ini luka-luka perjalanan. Aku tengah melewati jalan yang berduri dan berkabut, dan aku masih melangkah ke tempat yang kutuju."

Dengan lembut ia menggulung lengan baju hangatku, mempelajari dan memperhatikan luka baruku dan kali ini aku tak menolaknya.
Luka kami serupa.

Dan ia masih belum sejengkal lebih dekat daripada tujuannya.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...