Skip to main content

A Short Story: Insanity

"Ayah, orang-orang yang hilang kewarasannya dulu pernah seperti aku kan? Kalau aku tiba-tiba gila, ayah mau apakan aku?"
Ayah tak menaruh perhatiannya padaku. Ia tampak gelisah, berkali-kali diliriknya jam tangan hitam yang selalu ia kenakan di lengan kirinya.
"Ayah usahakan sampai kamu waras lagi,"
jawabnya setelah aku menarik ujung lengan bajunya.
"Kalau tidak bisa?"
"Ayah akan terima sesulit apa pun itu."
Ia melirik kanan dan kiri dengan resah, seperti hendak mencari celah di antara kendaraan-lendaraan yang terhenti.
"Kalau aku gila dan suka memukuli ayah?"
"Ayah tangkis."
Kini ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas roda kemudi.
"Kalau aku gila dan ingin ayah mendengar celotehan ngawurku setiap saat?"
"Akan ayah dengarkan," jawabnya sambil menghela nafas dan berdecak ketika lampu merah kembali menjebak kami.
"Jangan, ayah tutup telinga saja. Atau tutup mulutku."
"Baiklah, ayah tutup telinga saja ya sayang."
perhatiannya masih pada lampu merah yang belum berganti.
"Kalau aku gila, ayah jangan anggap itu aku ya. Ayah ganti namaku saja dengan nama orang lain.."
"Gila atau tidak, kamu kan tetap kamu, anakku."
Lampu berganti kuning.
"Tidak, ayah buang aku saja. Orang gila itu merepotkan. Seperti ibu di rumah yang tidak mau berhenti bicara padaku."
Kemudian Ayah terpaku sesaat. Dia menoleh dan dengan lembut tersenyum padaku. Tatapannya begitu menenangkanku, hal yang selalu aku inginkan darinya dan perhatiannya. Guratan-guratan di dahinya mengingatkanku pada kakek. Ia kemudian mencium keningku dan memelukku dengan erat.
Lampu kuning berganti hijau, kendaraan mulai tumpah memenuhi perempatan.
"Ayah, sudah hijau lampunya. Ayo jalan."
Ia tak melepaskanku. Pelukannya semakin erat dan kurasakan tubuhnya berguncang dan pundakku basah.
Aku terdiam di tengah hiruk pikik klakson kendaraan yang bersahut-sahutan di belakang kami.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...