Skip to main content

A Short Story: Feel

“Terima kasih ya sudah mendengarkanku. It means a lot you know,” ia memadamkan bara di batang tembakaunya. Asap dari puntung itu menari-nari melebur dalam kepulan asap dari sisa-sisa sembilan puntung lainnya yang telah lebih dulu baranya dipadamkan. Untuk pertama kalinya, ruangan ini disesaki asap tembakau.
“Hey, it’s nothing. I am just listening. Percayalah, aku tahu rasanya. Aku sekali pun yang sudah melewatinya tak punya solusinya,” ujarku.
Ia tersenyum seraya menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Ya, karena anggapanku bahwa kau pernah mengalami inilah yang menbuatku merasa bisa menceritakan perasaanku ini padamu. Lalu bagaimana kau melewati semua ini dengan begitu tenang? Kau tampak berhasil menikmatinya selama bertahun-tahun itu. Hampir seumur hidupmu bahkan. Sedangkan aku merasa tak sanggup melewati satu hari pun,” ucapnya sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan satu batang tembakau lagi. Diselipkan tembakaunya di antara bibirnya yang gelap. “Aku tidak tahu. Rasanya aku hanya membiarkan semuanya mengalir begitu saja. I do not resist and deny any feelings occured,” ujarku. Ia memantik lighternya berulang kali namun api tak kunjung muncul dan melahap tembakau yang disodorkan di depannya. Ia melepaskan tembakau itu dari bibirnya.
“Tidak masuk akal. Kau paham kan apa yang kubicarakan sedari tadi? Bahwa aku frustasi karena aku mati rasa dan hampa. Apa yang tertinggal untuk bisa kurasakan?” Ia mencerca dengan nada menggebu. Kembali ia berusaha membakar tembakaunya.
“Kehampaan itu sendiri. Bahkan saat hampa sekali pun, yang sedang kau lakukan sebetulnya adalah merasakan kekosongannya, kan?” aku meraih batang tembakau dari bibirnya. Ia menatapku heran dan terdiam sejenak sebelum akhirnya berdeham dan kembali bertanya, “Aku tidak tahu apakah aku sanggup. Kau tahu semua ini mengubah semua hal baik pada diriku, karena aku mencoba mencari-cari ketenangan dalam apa pun yang kutemui.” Ia menatap nanar kepulan asap yang semakin menipis. “Kau ingat aku pernah berkata padamu bahwa akan mudah bila hidupku sepertimu. Begitu tenang, tanpa merasakan apa pun. At that time, I was still alive, I was too emotional in everything that it made me tired. Sekarang aku baru merasakannya haha.” Kali ini ia mengeluarkan lighter dan sebatang puntung lainnya. Api berhasil membata. Dihisapnya dalam-dalam hingga dadanya penuh.
“Ya aku ingat. Saat itu aku hanya bisa tertawa miris sambil sedikit menimpali dalam hati. Bahwa aku ingin juga bisa merasakan sesuatu sepertimu. Aku ingin hidup. Tapi kau tahu, apa yang sebenarnya membedakan kita dalam menyikapi kehampaan ini?” 
Ia menggeleng.
“Karena aku saat itu belum mengenal rasa lainnya. Yang hatiku kenali hanya perasaan hampa itu sendiri sehingga mudah saja rasanya.”
Ia kemudian mengangguk seraya berkata, “Sedangkan aku memiliki pembandingnya. Aku berpengetahuan dan memutuskan bahwa kehampaan tak lebih baik. Now I wish to feel something and I am willing to try anything to make me feel.”
Ia berhenti mengisap dan menatap batang tembakau di antara jarinya.
“Ya, pada akhirnya sistemmu mengidentifikasi kehampaan sebagai suatu keadaan kekosongan. Sedangkan bagiku saat itu, kehampaan sudah cukup untuk meemenuhi hatiku. Aku tak merasakan kekosongan itu. So I didn’t try to make such effort in order to feel something.“ 
Ia menghela napas panjang dan hanya terdiam tanpa menanngapi.
“Trust me, this thing won’t make you feel anything but even more emptiness,” ujarku seraya mengambil batang tembakau di tangannya dan mematikan baranya.
Asap tipis mengudara kemudian dalam sekrjap hilang menguap di antara keheningan.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...