Rindu dan Luka kembali menerjang pintu dan memaksa masuk. Malam ini aku tak berusaha mengusir wlaupun mereka mendekapku lebih kencang dari biasanya. Kubalas erat dekapan mereka. Malam ini aku mempersilakan mereka masuk dengan santun tanpa amarah.
Kutarik daun pintu, hendak menutupnya agar kami dapat segera bergumul hingga fajar. Namun, tiba-tiba kulit tanganku diselimuti hangat. Aku berbalik dan menemukan tanganku dalam genggaman. Ia berdiri di sana menatapku lembut.
Ia di sini. Ibu kami.
Hatiku bergetar dan kerongkonganku tersekat.
Ia sungguh di sini, memenuhi undangan tanpa alamat yang tak pernah berhenti kulayangkan dalam keputusasaan. Kukecup punggung tangan Sang Ibu. Hangat tubuhnya menguap, menyelinap masuk dan melehkan air mataku.
Comments
Post a Comment