Skip to main content

Rumah dan Jendela Tetangga

Aku tahu betapa perapian di rumah ini sudah rusak. Tapi aku bukan ahli perapian, kuabaikan ia rusak walau harus  menggigil ketika malam datang membawa angin musim dingin yang menggigit.
Aku tahu betapa ia butuh diperbaiki. Tapi aku tak ingin orang lain melangkahkan kaki ke dalam rumahku, kan kuanggap ia penginvasi sekalipun itu si ahli perapian yang bisa membuat perapianku berfungsi sebagaimana mestinya.

Aku tak pernah tahu, bagaimana sang penghuni lama rumah ini bertahan melawan hawa dingin yang menggigit setiap malamnya. Atau rumah ini tak pernah berpenghuni sebelumnya? Aku tak tahu.
Aku tak pernah tahu, apakah hilang salah satu guna sebuah rumah tanpa perapian yang bekerja. Masihkah ia dapat tersebutkan sebagai sumber kehangatan? Aku tak tahu.

Tiga hari yang lalu aku tuna wisma. Aku tak mengenal makna sebuah rumah.
Aku tersesat atau terbebas sebelum terkurung dalam dinding-dinding dan langit-langit ini. Setiap dua belas detik aku bertanya di depan cermin, "Amankah di dalam sini?" Yang jelas aku kedinginan, tubuhku menggigil dan gemeretak gigiku mengacaukan pikiran.

Aku mengintip keluar jendela. Di tengah kegelapan badai salju, pandanganku menangkap titik-titik merah di seberang jalan. Jendela-jendela rumah para tentangga menampakkan perapian yang menyala dengan api yang menari-nari.

Asap hitam legam membumbung di atas atap rumah-rumah tetangga. Menodai biru langit dan putihnya salju dengan kegelapan. Betapa gelap tertutup asap sekeliling rumah-rumah itu. Namun begitu terang dan hangat di dalam sana.

Aku menutup tirai perlahan, membalikkan badan dan menatap dinding dan langit-langit dengan penuh kesangsian. Terbayang kembali jendela-jendela tetangga dan kurasakan tubuhku semakin menggigil. Aku bergidik membayangkan betapa akan menjadi panjang malam ini saat menyadari kecemburuan hati sedang hadir ditemani keraguan.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...