Skip to main content

A Short Story: Kijang Kencana di Pulau Menjangan



(TUGAS TRAVEL WRITING KELAS A)

Sunyi menjadi terasa berharga setelah suara bising mesin perahu yang memekakkan telinga selama 30 menit itu lenyap. Badan perahu yang terantuk-antuk ombak perlahan berhenti dan membentur pelan penyangga dermaga. 



"Ayah, kita sudah sampai ya?" sosok mungil disampingku menarik lembut tanganku. 



Sinar matahari keemasan membanjiri tubuh kecilnya yang hanya dibalut gaun tipis. Aku tersenyum wwmelihat wajah sumringahnya tertutupi rambut yang terurai dan tertiup angin. Kuangkat tubuh mungilnya ke atas dermaga dan kami berjalan menyusuri titian kayu hingga sampai di gapura pulau. Aku membalikkan badan sejenak dan mengedarkan pandangan pada segaris pulau yang masih kami pijak tiga puluh menit yang lalu, Pulau Bali. Laut jernih dengan gradasi birunya yang indah dan suara deburan ombak begitu menenangkan. Pasir pantai yang mencuri masuk lewat celah alas kakiku menggelitik di sela-sela jari kaki. 



"Ayo, Yah," sosok mungil itu berlari kecil sambil menarik tanganku, membangunkanku dari keterlenaan. 



Kami sampai dibagian depan pulau yang begitu sepi. Hanya ada kami berdua dan tiga orang turis asing berpakaian renang sedang sibuk memakai kacamata selam dan kaki katak. Beberapa ekor rusa yang semula dengan tenang duduk berteduh, terusik dengan kehadiran kami dan menjauh dari pos yang berbentuk rumah panggung dari kayu. Tanpa berlama-lama, kami masuk lebih dalam lagi ke bagian pulau yang ditumbuhi rumput-rumput tinggi dan pohon-pohon besar. Ia melepaskan tanganku dan berjalan dengan percaya diri memimpinku menyusuri jalan setapak yang sudah berkali-kali ia lalui. 



Seperti biasanya, pura diujung jalan setapak itu tampak sepi seakan-akan tidak ada siapa pun di sana. Hanya suara daun-daun kering terseret angin dan kicauan burung jalak Bali lah yang menangkal senyap. Seperti biasanya, kami berdua berhenti di gapura dan menghentikan langkah di undakan batu ke-enam belas. Aku meletakkan jari telunjukku di mulut mungil gadis kecilku dan ia mengangguk mengerti. Dengan jantung yang berdebar-debar dan berharap semua berjalan seperti biasanya, aku menaiki satu lagi undakan. Perlahan pemandangan undakan batu teratas tergantikan oleh sesosok wanita. Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah dedaunan jatuh menyelimuti sosok itu dan menjadikan tubuhnya berkilau agung bagai kijang kencana di antara Menjangan. Seperti biasanya, ia mengenakan kebaya putih dengan wastra dan selendang tenun berwarna emas. Dengan khidmat sosok itu memejamkan mata dan membungkukkan badannya sambil mengangkat sebatang dupa yang di selipkan di antara kedua tangannya yang tertangkup. Bunga kamboja bertengger manis di telinga kanannya. Di tengah keterpesonaanku pada gadis yang telah memikatku selama satu tahun itu, terjadilah satu hal yang tidak seperti biasanya. 



Sosok mungil yang semula berada di belakangku kini berdiri tepat di depanku, mengikuti arah pandangku. Kemudian ia berbalik ke arahku seraya berkata, "Andai ibu tidak mabuk laut, pasti akan menyenangkan jika tiap kali sembahyang di pulau ibu ikut."


(The illustration of the golden deer found in http://kantipadam.blogspot.co.id)

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...