"Ayo menulis lagi. Aku rindu jatuh cinta pada ide-ide liarmu,”
aku mengernyitkan dahi mendengar permintaanmu. Kuraih lenganmu lalu kusedot habis segelas teh hijau yang kau genggam. Seperti biasa, kau hanya bisa menatap geli pada kelancanganku. Aku selalu merasa menang.
“Sekarang aku tidak cukup depresi untuk menulis,” jawabku.
Kau terdiam dan menatap tenang gelas di tanganmu yang kini kosong.
"Baiklah, kalau begitu aku berharap tidak akan pernah membaca tulisanmu lagi."
“Sekarang aku tidak cukup depresi untuk menulis,” jawabku.
Kau terdiam dan menatap tenang gelas di tanganmu yang kini kosong.
"Baiklah, kalau begitu aku berharap tidak akan pernah membaca tulisanmu lagi."
***
Empat musim berlalu.
Kita pernah begitu yakin pada hal-hal yang kita katakan.
Sekarang, kamu di mana? Aku ingin bercerita, dulu aku pernah salah mengerti soal depresi.
Comments
Post a Comment