Orang asing itu berbalik dan menatapku tajam ketika tanpa kusadari aku sedang menatapnya.
Canggung!
Aku kemudian memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk menyendoki nasi goreng.
Padahal nasi gorengnya sudah habis meski pun hambar dan ayam gorengnya keras setengah mati.
Kemudian ia menutup pintu toilet itu dan pemandangan tatapan dinginnya tergantikan oleh pintu besi yang mungkin tak kalah dingin.
Aku kesal..
Kenapa ia harus menatapku seperti itu seakan-akan aku tidak boleh memperhatikannya?
Apa lagi yang harus kulihat selain kotak bekas makan nasi gorengku yang berantakan, bangku-bangku restorasi yang sepi, iklan kereta api yang diputar berulang-ulang kali menampilkan wajah presiden dan jendela yang hanya sesekali menampilkan kerlap kerlip lampu malam di kejauhan?
Apa lagi yang saat ini menarik untuk kupikirkan selain akan ke mana orang asing yang beranjak dari gerbong ini?
Aku beranjak dari bangku restorasi dan berjalan menuju toilet tempat orang asing itu sedang melakukan sesuatu. Masih sedikit kesal karena dihukum dengan tatapannya, aku mengetuk pintu toilet.
Apa lagi yang harus kulihat selain kotak bekas makan nasi gorengku yang berantakan, bangku-bangku restorasi yang sepi, iklan kereta api yang diputar berulang-ulang kali menampilkan wajah presiden dan jendela yang hanya sesekali menampilkan kerlap kerlip lampu malam di kejauhan?
Apa lagi yang saat ini menarik untuk kupikirkan selain akan ke mana orang asing yang beranjak dari gerbong ini?
Aku beranjak dari bangku restorasi dan berjalan menuju toilet tempat orang asing itu sedang melakukan sesuatu. Masih sedikit kesal karena dihukum dengan tatapannya, aku mengetuk pintu toilet.
Benar dingin pintunya, batinku.
Lima detik kemudian, pintu toilet terbuka.
Orang asing tersebut menatapku curiga, “Ada apa sih? Kamu mau apa?”
Kujawab pertanyaannya sambil balik menghujaninya dengan tatapan dingin, “Tolong beri tahu aku, hal-hal apa lagi yang kira-kira belum terpikirkan olehku hari ini?”
***
“Berapa lama lagi kamu mau diam termenung di bangku ini?”
“Sampai tengah malam dan setidaknya setengah penumpang kereta ini terlelap. Baru setelah itu aku akan kembali ke kursiku di gerbong paling belakang.”
“Mengapa harus menunggu selama itu? Keliatannya kau tidak punya hal apapun lagi untuk dilakukan di sini” ia melirik kotak nasi gorengku yang sudah kosong.
“Karena untuk kembali ke gerbong paling belakang, aku harus melewati empat gerbong yang semua bangkunya akan mengarah padaku. Aku akan dihujani tatapan dari puluhan atau mungkin ratusan pasang mata orang asing.”
“Kalau serumit itu untuk kembali lagi ke tempatmu semula, mengapa kamu ke sini tadi?”
“Tidak sempat terpikir. Tadi aku lapar.”
Comments
Post a Comment