Skip to main content

21.30 di gerbong restorasi

Orang asing itu berbalik dan menatapku tajam ketika tanpa kusadari aku sedang menatapnya.
Canggung!
Aku kemudian memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk menyendoki nasi goreng.
Padahal nasi gorengnya sudah habis meski pun hambar dan ayam gorengnya keras setengah mati. 
Kemudian ia menutup pintu toilet itu dan pemandangan tatapan dinginnya tergantikan oleh pintu besi yang mungkin tak kalah dingin.
Aku kesal.. 
Kenapa ia harus menatapku seperti itu seakan-akan aku tidak boleh memperhatikannya?
Apa lagi yang harus kulihat selain kotak bekas makan nasi gorengku yang berantakan, bangku-bangku restorasi yang sepi, iklan kereta api yang diputar berulang-ulang kali menampilkan wajah presiden dan jendela yang hanya sesekali menampilkan kerlap kerlip lampu malam di kejauhan?
Apa lagi yang saat ini menarik untuk kupikirkan selain akan ke mana orang asing yang beranjak dari gerbong ini?
Aku beranjak dari bangku restorasi dan berjalan menuju toilet tempat orang asing itu sedang melakukan sesuatu. Masih sedikit kesal karena dihukum dengan tatapannya, aku mengetuk pintu toilet. 
Benar dingin pintunya, batinku. 
Lima detik kemudian, pintu toilet terbuka.
Orang asing tersebut menatapku curiga, “Ada apa sih? Kamu mau apa?”
Kujawab pertanyaannya sambil balik menghujaninya dengan tatapan dingin, “Tolong beri tahu aku, hal-hal apa lagi yang kira-kira belum terpikirkan olehku hari ini?”
***


“Berapa lama lagi kamu mau diam termenung di bangku ini?”
“Sampai tengah malam dan setidaknya setengah penumpang kereta ini terlelap. Baru setelah itu aku akan kembali ke kursiku di gerbong paling belakang.”
“Mengapa harus menunggu selama itu? Keliatannya kau tidak punya hal apapun lagi untuk dilakukan di sini” ia melirik kotak nasi gorengku yang sudah kosong.
“Karena untuk kembali ke gerbong paling belakang, aku harus melewati empat gerbong yang semua bangkunya akan mengarah padaku. Aku akan dihujani tatapan dari puluhan atau mungkin ratusan pasang mata orang asing.”
“Kalau serumit itu untuk kembali lagi ke tempatmu semula, mengapa kamu ke sini tadi?”
“Tidak sempat terpikir. Tadi aku lapar.”


Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...