Halo!
Aku menuliskan ini masih sambil berlari. Sudah lupa sejak kapan berlari. Lari dari apa? Lupa pula. Baru tersadar juga kalau anak kecil itu tertinggal. Entah sejak kapan dan di tikungan ke berapa. Yang jelas aku sekarang berlari sendiri. Tadi aku berlari masuk pura. Bingung. Lalu masuk masjid, menyaksikan sholat ashar berjamaah. Setelah itu ke vihara. Viharanya tutup, hanya bisa melihat sang Budha dari jendela kaca. Tapi di sana ada kolam ikan koi. Akhirnya aku duduk, setelah sekian lama berlari. Aku sedikit lupa cara bersila. Aku haus, aku lapar, aku lelah. Ikan-ikan koinya ribut berlompatan, tapi ridak menggangguku untuk akhirnya mengingat kenapa aku berlari. Aku cuma bisa menangis di depan kolam koi. Akhirnya terisak setelah lama pilu di setiap lamgkah namun tak punya alasan untuk merasa pilu dan terisak. Siapa yang mestinya memberi tahu? Tidak tahu juga. Aku terimgat orang asing yang sempat menuntunku berlari hingga akhirnya aku melambat dan menyadari ada anak kecil itu yang mengikuti. Saat itu aku selalu ingat ke mana aku berlari. Aku rindu orang asing itu! Tapi biar saja kami berpisah di persimpangan. Kasihan. Lebih baik dari pada ia terseret terus. Semoga ia sudah sampai tujuannya saat ini. Jae Guru Nistya Om!
Aku menuliskan ini masih sambil berlari. Sudah lupa sejak kapan berlari. Lari dari apa? Lupa pula. Baru tersadar juga kalau anak kecil itu tertinggal. Entah sejak kapan dan di tikungan ke berapa. Yang jelas aku sekarang berlari sendiri. Tadi aku berlari masuk pura. Bingung. Lalu masuk masjid, menyaksikan sholat ashar berjamaah. Setelah itu ke vihara. Viharanya tutup, hanya bisa melihat sang Budha dari jendela kaca. Tapi di sana ada kolam ikan koi. Akhirnya aku duduk, setelah sekian lama berlari. Aku sedikit lupa cara bersila. Aku haus, aku lapar, aku lelah. Ikan-ikan koinya ribut berlompatan, tapi ridak menggangguku untuk akhirnya mengingat kenapa aku berlari. Aku cuma bisa menangis di depan kolam koi. Akhirnya terisak setelah lama pilu di setiap lamgkah namun tak punya alasan untuk merasa pilu dan terisak. Siapa yang mestinya memberi tahu? Tidak tahu juga. Aku terimgat orang asing yang sempat menuntunku berlari hingga akhirnya aku melambat dan menyadari ada anak kecil itu yang mengikuti. Saat itu aku selalu ingat ke mana aku berlari. Aku rindu orang asing itu! Tapi biar saja kami berpisah di persimpangan. Kasihan. Lebih baik dari pada ia terseret terus. Semoga ia sudah sampai tujuannya saat ini. Jae Guru Nistya Om!
Comments
Post a Comment