Skip to main content

Berpikir Matematis

Dari satu yang pecah tumpah menyiprat menjadi dua, sepuluh, tiga ratus satu, seribu juta, sampai tujuh milyar, ada beberapa ratus yang suara tawanya melayang-layang abadi di udara. Masih terdengar sampai hari ini, walau dadanya sudah bolong dicium peluru tak sopan, mendobrak, mengoyak, memaksa masuk, memerkosa satu, dua, tiga, sampai sepuluh tahun yang lalu. 

Yang lain lagi terperangkap, tawanya tertahan di dalam dada yang masih perawan belum terkecup peluru. Jantungnya masih berdetak seratus ribu kali dan matanya masih berkedip dua puluh delapan ribu delapan ratus kali sehari walau jiwanya yang hanya satu dirampas direnggut diinjak diludahi. 

Lalu hari ini, ada satu yang sambil mengaduk mie instan dengan tangan kanan, menuliskan cita-cita baru dengan pena di tangan kirinya. Mengkalkulasikan usia, uang, waktu dengan angka angka panjang yang belum masuk akal beberapa detik lalu. Dia bilang pada garpu berminyak yang diam saja bahwa cara paling mudah memahami hidup adalah dengan berpikir matematis.

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...