Yang setiap hari di situ tidak bertanya pada yang baru “Ingin ke mana? Meratapi siapa? Mengapa seorang diri?”
Mereka melempar sapaan, mengabaikan kau berjalan atau menawarkan sarapan.
Kalau kau berkunjung dan sudah melewati rumah guci abu Jepang, berjalanlah di sisi kiri. Agar tak merusak ritme lari Bapak berkaca mata hitam, atau menghalangi adik kecil yang berlarian dikejar ibunya yang bersusah payah menyuapi.
Kalau ingin mencari makam berbintang Daud, jangan bertanya pada pemuda yang berbaring di atas makam China beratap. Bertanyalah pada anak yang membebaskan merpati. Ia akan bertanya pada pamannya yang sedang mengusir daun dari makam Ny. Elizabeth.
Paman akan berjalan ke rumah beratap terpal di dinding perbatasan makam dan gang sempit. Ia memanggil nenek. Nenek akan repot-repot turun menemuimu sambil mengomel pada anak-anak yang bermain layangan dan menghalangi jalannya.
Kau akan tertawa sedikit di hatimu menertawakan pagi yang aneh, pagi yang tidak biasa, dan pagi yang magis di situ.
Kau akan tergoda untuk berbisik pada gulma-gulma yang benar, “ini pagi yang lucu.” Di pagi itu kau melihat banyak yang sungguh hidup di antara banyak yang sungguh mati, dan kau tau ada satu, dua, atau tiga yang lahir dengan kekuatan untuk merasakan keduanya sekaligus.
TPU Petamburan, 2022.
Inspired by Ardi Wilda’s writing https://ardiwilda.com/2021/02/21/pagi-di-petamburan/
Comments
Post a Comment