Skip to main content

Pagi di Petamburan

Yang setiap hari di situ tidak bertanya pada yang baru “Ingin ke mana? Meratapi siapa? Mengapa seorang diri?”

Mereka melempar sapaan, mengabaikan kau berjalan atau menawarkan sarapan. 

Kalau kau berkunjung dan sudah melewati rumah guci abu Jepang, berjalanlah di sisi kiri. Agar tak merusak ritme lari Bapak berkaca mata hitam, atau menghalangi adik kecil yang berlarian dikejar ibunya yang bersusah payah menyuapi. 

Kalau ingin mencari makam berbintang Daud, jangan bertanya pada pemuda yang berbaring di atas makam China beratap. Bertanyalah pada anak yang membebaskan merpati. Ia akan bertanya pada pamannya yang sedang mengusir daun dari makam Ny. Elizabeth. 

Paman akan berjalan ke rumah beratap terpal di dinding perbatasan makam dan gang sempit. Ia memanggil nenek. Nenek akan repot-repot turun menemuimu sambil mengomel pada anak-anak yang bermain layangan dan menghalangi jalannya. 

Kau akan tertawa sedikit di hatimu menertawakan pagi yang aneh, pagi yang tidak biasa, dan pagi yang magis di situ. 

Kau akan tergoda untuk berbisik pada gulma-gulma yang benar, “ini pagi yang lucu.” Di pagi itu kau melihat banyak yang sungguh hidup di antara banyak yang sungguh mati, dan kau tau ada satu, dua, atau tiga yang lahir dengan kekuatan untuk merasakan keduanya sekaligus.

TPU Petamburan, 2022.

Inspired by Ardi Wilda’s writing https://ardiwilda.com/2021/02/21/pagi-di-petamburan/ 

Comments

Popular posts from this blog

A Flash Fiction: Ingatan

Jam digital di atas pintu gerbong menunjukkan angka 00.20. Sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Kamu tahu?  Tentu tidak . Hari ini aku melakukan kecerobohan, aku berangkat ke stasiun dan menemukan bahwa tiket yang kupesan adalah tiket keberangkatan esok. Tapi aku terlalu rindu naik kereta untuk menunggu sampai esok. Jadi aku membeli tiket lagi. Kamu tahu?  Tentu tidak . Di dalam gerbong kereta malam ini, aku kedinginan. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sering merasa kedinginan. Lalu di atas kursi di samping jendela ini, aku berkali-kali mencari-cari posisi. Aku pikir aku resah. Tidak seperti biasanya, kali ini aku cemas dalam suatu perjalanan.  Kamu tahu?  Tentu tidak . Sepanjang perjalanan, aku teringat percakapan kita mengenai kereta. Aku ingat kita sepakat bahwa berada di dalam gerbong kereta yang merayap di darat lebih menyenangkan dari pada berada di dalam badan pesawat yang terbang di udara.  ...

A Flash Fiction: Lifeform

With trembling hands, she put the thing on my palm. She look away, obstruct the worries and fears that I could have seen in her eyes. I look down to discover two red lines on the test pack she gave me. "This is..." I look at it over and over again in disbelief "Terrifying," she says in a croaky voice. With no invitation, the cold wind comes in, smothers me. And I am stuck in the avalanche.

The Playground We Built

With our little feet and tiny hands we play around.  Oh, how fluent we are in calling each other's name while hiding from and seeking each other.  How silly it is when we shout random words in our own language to strangers on the road. I hear only your laugh and you hear only mine. I feel like a little giant throwing punches to the pillow that you hold and at some point we would smash pillow to each other's faces. Giggling till the butterflies in our stomach flies in all direction, filling the air in the room. You snatch my food and I snatch yours in a restaurant we just visit. We roast the odd-looking banner showing menu names and low quality images. Unappetizing. Somewhere so far away, I wish I met you when we were little. So the time will be ours to play around all day, everyday. I wish we never have to grow up so we can go to waterfalls whenever we feel like splashing water to each other's back. We can dip our head-to-toe in the saltwater, letting it run in our vein. Yo...